Menata Karier

"Menata Karier"[Kompas-29 Oct. 2011] Pada zaman sekarang, banyak orang yang usianya di bawah 30 tahun, tetapi sudah menyandang jabatan manajer. Bukan manajer rekayasa ataupun sekadar titel, tetapi manajer betul. Artinya, anak-anak muda ini bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaan dengan volume besar dan mempunyai anak buah yang lumayan banyak. Kita tentu saja bisa kagum dengan kondisi ini. Saya pun jelas bisa membandingkan bedanya jalan karier saya dengan teman-teman yang masih muda ini. Pada usfa sedemikian, saya masih berada diaranking paling bawah di “ganisasi. Bayangkan, bila seseorang sudah mempunyai jabatan tinggi di organisasi dan masih memiliki rnasa berkarier 25 tahun sampai mencapai usia pensiun, bagaimana ia akan mengisi kehidupan kariernya?

Kita Iihat dunia kerja sudah begitu berubah. Di banyak organisasi, kesempatan untuk maju terbuka Iuas bagi mereka yang berpotensi serta cakap atau kompeten. Persaingan untuk maju ke jenjang berikut menjadi lebih kompetitif, bahkan sampai sikut-sikutan. Di sisi lain, ada orang yang dengan sinis mengatakan bahwa perusahaan sengaja membuat jenjang kepangkatan dan struktur organisasi yang berlapis-lapis, sehingga membuat karyawan seolah bisa mendaki terus. Padahal, tidak ada perubahan dalam bobot kerja maupun mutu di jenjang yang Iebih tinggi itu, sehingga karyawan secara mental merasa Ielah dan melinat masa kerja berjalan lambat.

Di kalangan organisasi pemerintahan, perjalanan kariar sering diibaratkan sebagai upaya menabung dan kesabaran menanti. Menabung dalam karier bisa diartikan sebagai menabung ijazah, sertifikat yang kemudian bisa di-trade off dengan kenaikan pangkat. Di Iingkungan semacam ini, kegiatan menunggu diartikan dengan rasa bahwa nasib kita dalam berkarier ditentukan oleh pihak eksternal, bukan diri kita.

Bagaimana kita memandang pérjalanan karier kita? Ssberapa jauh kita malihat diri kita bisa aktif merencanakan dan menata karier kita?

Promosi Bukan Kado

Ungkapan “naik pangkat” nampaknya sudah bisa ditinggalkan pada zaman yang sudah berubah ini. Dengan kemajuan teknologi, gaya kerja yang lebih fleksibel, globalisasi, dan struktur organisasi yang semakin pipih, tidak berjenjang banyak, kemajuan karir sudah tidak bisa disamakan dengan kegiatan mendaki tangga. Gerakan karier sudah lebih mengarah pada gerakan lateral. Kita tidak bisa lagi pasrah pada batasan, aturan, pembagian wilayah atau pengotak-kotakan organisasi yang konvensional. Sudan semakin jarang orang yang bekerja tanpa inisiatif menentukan kariernya. Kaberhasilan proyek, bertambahnya keterampilan, tidak bisa disimpan balk-baik, melainkan perlui di “jembreng”-kan agar dijadikan bahan partimbangan manajemen untuk penugasan yang lebih berbobot, Iebih berkontribusi, dan memberi nilai tambah.

Sikap rendah hati dan pasif dalam berkarier boleh dikatakan merupakan satu paket dalam cara berkarier konvensional. Sebaliknya, bila meiihat karier sebagai sesuatu hai yang bisa ditata sendiri, kita memang perlu mampu mengekspresikan ambisi, bahkan kegelisahan kita. Pada saat sekarang ini, individu perlu menjadi “a known quantify” yang terlihat pencapaian kinerjanya, terutama di hadapan orang-orang yang mengambil keputusan promosi, antara lain atasan. Saat seseorang tahu ambisi karier nya, ia bisa Iebih mudah mengajukan diri untuk mendapat mentoring secara-terarah. Sebuah penelitian membuktikan bahwa 4 dari 5 promosi dalam sebuah organisasi dicapai oleh orang yang tekun mendapat mentoring. Tanpa disadari, kegiatan mentoring adaiah kegiatan networking juga. Kita mendapat kesempatan untuk dikenal dan mengenal senior kita, serta teman-temannya. Selain itu, dari seorang mentor ataupun atasan langsung, bila hubungan kita baik, kita mendapat kesempatan untuk melihat cara dan di mana kesempatan berkembang itu ada.

Jangan alergi dengan tanggung jawab

Seorang teman berkomentar mengenal CEO-nya yang mempunyai beban mental sedemikian berat, karena para direktur di bawahnya enggan mengambil keputusan dan bertanggung jawab. Ya, betapa sering kita melihat orang ingin memangku sebuah jabatan bergengsi tanpa mengecek apa dan seberapa besar wewenang dan tanggung jawab yang harus diemban dan dipertanggungjawabkan. Apakah karier akan berarti bila hanya berupa jabatan kosong, tetapi tidak diimbangi dengan kinerja dan nilai tambah yang terasa, terukur dan terlihat? lndividu yang ingin berkembang perlu memikirkan dan menunjukkan apa yang bisa ditambahkan agar bobot pekerjaannya meningkat. Sikap seperti ini tentu menguntungkan tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi atasan dan organisasi. Indiividu dengan ambisinya ingin berkembang, sementara perusahaan menginginkan penyelesaian tugas.

Dengan keadaan organisasi yang kompetitif dan semakin tidak berjenjang, kita bisa merasa khawatir, jangan-jangan kita tidak mempunyai tampat di dalam organisasi. Ya, kita memang harus mawas diri bahwa organisasi pun tidak luput dari keharusan untuk menjadi fleksibel. Hal ini berarti kita harus ingat juga melihat kiri dan kanan, yaitu pekerjaan-pakerjaan dengan ekspertis yang barbeda. Kita tidak bisa alergi dengan pindah bagian atau divisi, karena hal ini sangat dimungkinkan. Hal yang kritikal sesungguhnya adalah mangasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, perencanaan, yang kesamuanya langsung bisa diterapkan di tempat kerja mana pun.

Elleen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
‘Exccutivc Coaching”

About these ads

5 pemikiran pada “Menata Karier

  1. will mengatakan:

    Bagus bngt artikelnya, thank’s infonya kang :)

  2. dokter anak mengatakan:

    nice article…thanx for share

  3. ARTIKEL UNIK mengatakan:

    terimakasih infonya

  4. Gamecompressed mengatakan:

    Ok, tapi harus menata karier yang sesuai dengan 3 hal yang penting juga gan

  5. Asti mengatakan:

    Pada usia muda dan memiliki perjalanan karier yang bagus, sebagian orang memanfaatkan dengan kerja yang tak mengenal waktu. Apapun ia kerjakan dengan harapan akan menambah tinggi perjalanan kariernya.
    Tetapi,,, kadang kita tak dapat berpikir bahwa kelak jika sudah pensiun akan seperti apa?? Kerja bagaikan mesin penggiling, yang selalu berjalan tanpa lelah, giliran sudah tua dan pensiun,, kita hanya duduk terpaku menikmati hari tua.
    Nikmati pekerjaan, tak usah terlalu memaksakan diri akan aktivitas tertentu,, cukup berjalan,, dan nikmati karier. Dan pandang ke bawah, supaya kita mampu mengucap kata syukur berulang kali.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s