GAGAL

[Kompas-17 Dec 2011] Kita tidak bisa menutup mata mengenai banyaknya kegagalan yang terjadi di tengah kita. Mulai dari kekalahan dalam olanraga sepak bola, bulu tangkis, sampai kinerja lembaga yang hasil kerjanya belum kunjung bisa mambuktikan kesuksesannya. Ada juga kegagalan yang menyebabkan tidak hanya kerugian finansial yang besar, tetapi juga nilangnya nyawa, seperti jembatan ambruk. Hal yang lebih berbahaya Iagi malah bila dampak kegagalan sampai tidak bisa dihitung kerugiannya secara finansial, tetapi kerusakannya begitu nyata. Seperti suburnya korupsi sampai ke generasi yang lebin muda, ataupun lunturnya pendidikan moral dan budi pekerti.

[Gagal dan Kegagalan]Dengan gencarnya media sosial sekarang ini, caci maki bila kegagalan terjadi sering kali membuat kita merinding. Terlepas dari besar-kecilnya kerugian yang ditimbulkan, komentar-komentar yang “sadis” segera saja menohok pelaku yang pada kenyataannya memang berbuat salah atau bodoh. Di perusahaan, bahkan dalam keluarga pun hal ini terjadi. Ada orang tua yang langsung menghukum anak yang mendapat angka buruk di ujian, ulangan, atau pe-er-nya. Ada juga atasan yang segera mengganjar kesalahan atau kelalaian dengan cercaan sehingga pelaku seolah-olah tidak diberi napas, baik untuk memberi keterangan maupun membela diri.

Beratnya hukuman terhadap kegagalan menyebabkan kegagalan bisa dianggap sesuatu alergi, tidak boleh terjadi, bahkan tidak boleh ada. Tak heran bila kita melihat tumbuh suburnya sikap defensif. Begitu ada gejala ke arah kegagalan, individu sudah pasang kuda-kuda, siap dengan telunjuknya untuk menuding orang lain. Bisa juga, ia memutar otak untuk berteori panjang lebar, mengeluarkan segala jurus analisis. Yang penting, dirinya terlepas dari sorotan, apalagi tanggung jawab untuk menanggung akibatnya. Kebiasaan untuk menghindari kegagalan ini selain menimbulkan stres, juga menghilangkan separuh kesempatan untuk belajar. Padahal, kalau dipikir-pikir, mungkinkah kita belajar dari kesuksesan saja? Bila sedang mengalami sebuah sukses besar, bukankah kita cenderung tidak belajar dari situasi tersebut? Kita jarang sekali menganalisis “mengapa sukses ini terjadi?“, “Faktor apa yang dominan?”. “Apa tindakan kita arnloil sehingga kesuksesan bisa beruIang?” Atau, apakah ini hanya keberuntungan saja? Sementara itu, bila kegagalan terjadi, dari orang awam sampai ahlinya, akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menganalisis penyebabnya. Individu yang loijak akan Iangsung memikirkan solusi dan tindakan perbaikan. Jadi, rnengapa kita begitu takut gagal?

Dekati kegagalan

Pesta-pesta kesuksesan di perusahaan sudah lazim kita alami. Sebaliknya, pernahkah kita menelaah bagaimana perusahaan menyikapi kegagalan? Microsoft, perusahaan yang super sukses, kerap “merayakan” kegagalan, bahkan menyebut beberapa kegagalannya sebagai “glorious failures”. Mereka sangat jelas memahami sumber
kegagalannya dan menjadikan kegagalan sebagai batu Ioncatan untuk melakukan “breakthrough”. Sebenarnya, bahkan di parIemen sendiri kita Iihat ada acara “hearing” atau “clengar penclapat” yang dimaksudkan untuk “mendengar” apa, bagaimana, mengapa suatu kejadian terjadi dan apa solusinya. Jacli, slogan “belajar dari kegagalan” benar-benar harus kita pelajari kembaIi. Istilah “success by failure” memang ada dan merupakan kenyataan.

Sebuah perusahaan bahkan berani membuat “hall of failure” dan bukan “hall of fame” seperti biasanya. Latar belakang pemikiran perusahaan tersebut sangat jelas. Perusahaan rnengupayakan agar para karyawan meyakini bahwa kegagalan adalah bagian dari upaya perusahaan yang menginginkan karyawan mau mengambil risiko dan tidak dihantui ketakutan akan kegagalan. Perusahaan tersebut bahkan menginstruksikan untuk mencantumkan cerita kegagalan dan apa yang dipelajari dari kegagalan tersebut, dilengkapi dengan tanda tangan yang bersangkutan. Ada individu yang menulis cli “hall of failure” dengan mengatakan bahwa setelah 7 tanun berusaha, ia berhenti belajar bermain biola.

“Lesson Learned” yang ia sampaikan adalah “saya tidak akan peduli dengan pendapat orang bahwa saya ‘tidak bisa main musik”. Pernyataan ini, meskipun nampaknya tidak relevan dengan proses bisnis perusahaan, tetapi sebenarnya menanamkan keberanian pada mental individu untuk siap menghadapi kesulitan dalam situasi apapun.

Pemimpin perusahaan bahkan mengatakan ”We don’t just encourage risk taking at our offices: we demand failure”. Kemajuan, inovasi, dan kesuksesan memang sesungguhnya lebih mudah dipelajari dari kesalahan kesalahan di sana sini. Hal seperti ini bermanfaat bila saia pendekatan kita terhadap kesalahan memang positif, mendalam dan ditekuni.

Budaya “strongly-weak!”

Mengembangkan budaya yang sadar akan kelemahan dan menjadikan “lesson learnt” sebagai kekuatan, bisa jelas kita Iihat pada oiahragawan. Jarang sekaii juara-juara oiahraga tidak mempeiajari kelemahannya. Individu-individu yang demikian, tumbuh menjadi orang yang Iebih membumi, kritis, fair, jujun serta bisa memandang bahwa realitas itu menyakitkan, tetapi penyembuhannya akan membawa ke kesuksesan. Kegagaian seharusnya tidak menjadi sesuatu yang kita ratapi, tetapi jalan bagi kita untuk juga memahami di mana Ietak kekuatan kita serta bagaimana kegagalan bisa menjadi momentum untuk membawa perbaikan. Dalam suatu masyarakat, ketika keragaman individu tidak mudah dikontrol, kita memang periu pemimpin yang mencontohkan sikap belajar dari kegagalan, bahkan membawa kegagalan sebagai sarana untuk mengembangkan “trust”. Kita bisa belajar dari pernimpin negara Jepang dan China ketika menghadapi bancana. Rakyat langsung mempunyai respek tinggi terhadapi cara pimpinan menghadapi krisis. Saat menghadapi wawancara, kegagalan yang peinah kita alami pun sebetulnya tidak melulu harus disembunyikan. Bila kita bisa membahas bagaimana sikap dan “action” kita untuk “bouncing back”, hal ini malah bisa menjadi nilai tambah kita.

By : Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
“One-Day Assessment” ·

About these ads

3 pemikiran pada “GAGAL

  1. will mengatakan:

    klo bisa, jadikanlah kegagal itu awal dari kebangkitan & kesuksesan kita .

  2. demam anak mengatakan:

    bagus artikelnya…makasih udah share ya

  3. Kata Mutiara mengatakan:

    gagal , ya di coba lagi dong .. hehe ..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s